Cerpen Kertas Putih yang Terlipat

Advertisement
Udah lama juga gak nyalin cerita pendek utawa cerpen disini. Kali ini coba menyalin sebuah Cerpen Kertas Putih yang Terlipat dari salah satu fans-page facebook. Cerita tentang masa kecil, pertemuan dan perpisahan, dan pastinya 'ada apa dengan kertas putih yang terlipat itu?'

Yuk lah langsung aja dibaca cerpen Pertemuan dan Perpisahan yang gue kasih judul "Kertas Putih yang Terlipat" berikut.. *pelan-pelan yah bacanya*



"Kertas Putih yang Terlipat"
(Oleh: Amelia Az Zahra)

Angin terus berhembus, mengalirkan kesejukan, namun apakah jiwa ini berada dalam kesejukan? Raga mungkin kedinginan namun apakah jiwa juga membutuhkan kehangatan? Waktu terus berjalan, mengalir deras detik demi detik. Namun di sini segala sesuatunya membeku, semua gerakan dan hal-hal yang harus dikerjakan belum tersentuh. Rena menatap jam di laptopnya, lalu memijat keningnya, terasa pusing mungkin karena banyak hal yang belum selesai dikerjakan. Tapi ia merasa lelah karena setiap sudah mengerjakan sesuatu pasti ada pekerjaan lain yang meminta untuk dikerjakan. "Tak adakah jeda?" pikirnya.

Ia menghela nafas dan berfikir "Kenapa setiap ingin melakukan tugas, selalu saja perhatiaan yang kumiliki selalu teralihkan?". Namun sayangnya ia hanya bisa bertanya tanpa bisa menjawab. Ia pun bersiap pergi, memasukkan barang-barang ke dalam tas. Rencananya sekarang ia akan ke perpustakaan untuk mencari buku-buku sebagai bahan untuk mengerjakan tugas kuliahnya.

Ia pun menaiki bus way dan termenung, lalu timbul sebuah pertanyaan tanpa jawaban, "Kenapa harus ada sebuah perjalanan panjang yang memakan banyak waktu untuk mencapai suatu tempat". Dan karena ia tidak mendapatkan sebuah jawabannya, ia pun hanya menghela nafas. Namun ia berpendapat bahwa setiap pertanyaan pastilah ada jawabannya sebagaimana setiap manusia pasti memiliki pasangan hidupnya. Rena pun menerka-nerka jawabannya.

Dan akhirnya ia berusaha menjawab pertanyaannya, "Yah, mungkin ada sesuatu hal yang bisa kita dapatkan di perjalanan, misalkan saja kita bisa berbuat kebaikan dengan memberikan bangku yang kita duduki untuk anak-anak atau lanjut usia atau yang memiliki kebutuhan khusus."
Beberapa lama kemudian Rena sampai ke perpustakaan itu tepat pukul 9 dan untungnya perpustakaan ini sudah buka. Ia pun memasuki perpustakaan itu, mengisi daftar kunjungan dengan menuliskan nama dan tanda tangannya serta menukar kartu anggotanya dengan sebuah kunci loker.

Ia mendapatkan nomer loker ke 27, ia tersenyum tipis karena nomer itu adalah angka lahirnya, dan sembari melangkah menuju loker itu ia pun menggeleng-gelengkan kepalanya karena ia berfikir apakah dunia ini benar-benar sesuai seperti teori sinkronitas. Dan sayangnya ia hanya bisa bertanya pada rumput bergoyang dan yang lebih menyedihkan rumput yang bergoyang hanya menggeleng tidak tahu.

Rena membuka tasnya dan mengambil buku, pulpen dan Hpnya. Lalu membuka loker itu dan berusaha memasukan tasnya. Namun ia melihat suatu benda putih yang tipis. Ia meraba benda itu, ternyata sebuah amplop surat, baru saja ia ingin memberikan amplop itu kepada penjaga perpustakaan namun ia mengurungkan niatnya karena ia melihat namanya tertera pada kertas itu.

Yang ada dipikirannya sekarang adalah siapa yang menulis surat itu, namun karena ia mendapatkan kunci loker ini, ia pun berfikir, mungkin penjaga loker itu yang menulis surat ini, atau ada orang lain yang menitipkan kepada sang penjaga perpustakaan karena orang itu mengetahui kebiasaan Rena yakni selalu berkunjung ke perpustakaan ini setiap sebelum masuk kuliah, dan ia kuliah pada pukul 1 siang jadi, Rena pun ke perpustakaan dahulu untuk mencari buku-buku yang menarik untuk dibaca atau untuk mengerjakan tugasnya.

Rena pun memasukan tasnya ke dalam loker dan mengunci loker itu. Ia menyelipkan amplop surat itu ke dalam buku dan ia berjalan menuju sebuah tempat duduk yang nyaman untuk membaca. Karena masih pagi perpustakaan masih sepi. Ia pun mengambil amplop putih itu dari bukunya. Di situ tertulis "Kepada Renayha Maulia Zara." Rena pun segera membuka amplop itu dan mendapati sebuah kertas putih yang terlipat, ia segera membuka lipatannya dan mulai membaca.

Hai Rena,

Lama tidak bertemu bukan berarti lupa.

Masih ingatkah kau padaku? Pada kisah kanak-kanak kita, saat kita bermain bersama dan tertawa bersama. Apakah di dunia ini ada kerinduan primordial? Kerinduan untuk melihat masa lalunya kembali. Kau adalah kepingan masa laluku, dan akupun kepingan masu lalumu. Temui aku di taman tempat kita bermain dahulu hari ini (hari saat kau membaca surat ini) pukul empat sore. Tentunya taman itu masih sama seperti 12 tahun yang lalu bukan? Sampai Jumpa.

Dari sahabat semasa kecilmu.

Rena telah usai membaca surat itu namun ia masih menatap surat itu dengan berbagai ekspresi. Ekspresi pertama adalah ternyata tulisannya hanya sedikit. Padahal seharusnya surat ini tidak perlu dilipat namun sebaiknya di robek saja bagian yang kosong sehingga pembaca tidak kecewa karena mengira kertas ini akan tertulis tulisan yang panjang. Tapi mungkin agar isi surat bisa ditutup dengan lipatan kertas itu sehingga kertas tidak di robek.

Dan ekspresi selanjutnya adalah sebuah senyuman tipis. Ini adalah surat dari sahabatnya bahkan sejujurnya adalah ia menyukai sahabatnya ini. Sahabatnya ini adalah cinta pertamanya, walau sang sahabat tidak mengetahui perasaan Rena kepadanya, dan Rena pun tidak tahu perasaan laki-laki itu. Mungkin laki-laki itu hanya menganggapnya sebagai sahabat semasa kecil. Dan mungkin hanya Rena nya saja yang terlalu berlebihan dalam menggunakan perasaannya karena terlalu banyak membaca kisah dongeng yang selalu berakhir bahagia. Padahal dalam dunia nyata, belum tentu juga berakhir dengan bahagia, karena kehidupan nyata selalu menyembunyikan kejutannya.

***

Rena dan Reyhan umurnya hanya berbeda satu bulan. Kedua ibu mereka bertetangga, dan selalu bersama saat sedang hamil. Namun Reyhan lahir lebih dulu, dan satu bulan kemudian Rena lahir. Tapi saat kelahiran Rena, rasanya begitu sulit, di luar rumah sakit, hujan turun dengan derasnya, langit bergemuruh menebarkan banyak kilat, dan angin menderu-deru. Sedangkan di dalam rumah sakit tepatnya di ruang persalinan, Ibu Rena begitu kesulitan untuk melahirkan Rena. Butuh waktu berjam-jam untuk melahirkan Rena ke muka bumi ini. Keringat dingin bercucuran. Bahkan Ibu Rena pun berkata dalam hati, "Jika aku mati, maka matilah asalkan anakku tetap hidup". Hujan di luar masih belum berhenti, keringat pun masih bercucuran. Ayah Rena saat itu masih bekerja di luar kota sehingga tidak bisa mendampingin Ibu Rena. Ibu Reyhan pun meminta izin untuk memasuki ruang persalinan untuk memberikan semangat.

Sang Dokter menyeka keringatnya, karena sudah begitu letih ia pun mengangguk. Ibu Reyhan pun terus memberikan semangat dengan menggenggam tangan Ibunya Rena dan tangan kecil Reyhan pun menyentuh jari Ibu Rena. Mungkin saat itu Reyhan sedang memanggil Rena untuk bersedia memasuki dunia ini di mana ada pertemuan dan perpisahan. Dan akhirnya Rena pun lahir. Sang ibu pun menghela nafas karena begitu lelah. Tubuhnya bersimbah air keringat seperti sedang mandi dengan air keringat, namun seulas senyuman pun menghiasi wajahnya. Dan tiba-tiba sang ayah Rena pun datang dengan masih memakai baju kerjanya dan agak sedikit basah serta nafas tersenggal-senggal ia pun mendekati ibu Rena.

Senyuman ibu Rena semakin melebar ia melihat jam, ternyata jam sepuluh malam, lalu ia berkata, "Aku kira kau tidak akan datang". Sang ayah pun memeluk istrinya lalu menggendong Rena dan berkata, "Tentu aku datang, Oh aku mendapatkan anak perempuan. Ini adalah anak perempuan pertamaku. Oh ya dimana Syakir mungkin dia ingin memberikan nama adik perempuannya". Sang ibu pun memanggil anak pertamanya "Reza, sini Rez". Mohammed Syakir Reza yang sejak tadi duduk membisu di pojok karena begitu tegang akhirnya datang mendekati ayahnya.

Sang ayah pun bertanya, "Hem, kita namai siapa ya adikmu ini? Apa sebaiknya Rinai saja karena malam ini hujan?" Reza yang saat itu berumur 4 tahun menggumamkan sebuah kata, "Renayha". Sang ibu tersenyum, "Waw semuanya berawalan Re. Ada Reza, Reyhan dan Renayha". Ibu Reyhan tersenyum, "Wah bagus tuh lalu belakangnya ditambahkan Mulia"..

Sang Ayah termenung dan mengangguk, "Ya, benar lalu di tambahkan juga Zara, biar agak mirip dengan kata Reza". Sang ibu mengangguk, rasa lelahnya pun sirna, "Ya namanya jadi Renayha Maulia Zara saja. Bagus ga?". Mereka pun mengangguk sepakat. Dan mulai saat itu Reyhan dan Rena pun selalu bersama. Makan bersama, belajar tengkurap bersama, belajar merangkak, belajar jalan, belajar berbicara, selalu bermain bersama. TK pun di tempat yang sama yakni yang dekat dengan rumah. Namun ada beberapa perbedaan dalam hobi. Di rumah karena tante Rena selalu memberikan buku cerita bergambar. Rena pun suka membaca buku, walau saat itu ia tidak bisa membaca dan hanya melihat gambarnya namun sang ayah selalu membacakannya untuk Rena, bahkan saat Rena SD dan sudah bisa membaca sang ayah pun tetap membacakannya.

Kebersamaan Rena dan Reyhan hanya 7 tahun. Akhirnya Reyhan pun pergi ke Bandung. Rena pun menjadi sedih dan berkata pada dirinya bahwa ketika dewasa ia akan mencari Reyhan ke Bandung. Tapi kini di umur Rena yang ke 19 tahun ia belum sempat pergi ke Bandung untuk mencari Reyhan. Justru malah Reyhan yang ke sini untuk menemuinya.

***

Rena melihat jam di Hpnya, "Waa, sudah jam 5 sore". Ia pun berlari menuju taman, nafasnya tersenggal-senggal. Taman ini penuh bunga, namun taman ini cukup kecil juga, sehingga tidak sulit bagi Rena untuk berkeliling mencari Reyhan. Tapi sosok yang dicari tidak ada. Setelah lelah berjalan mengitari taman ia pun duduk di kursi taman. Taman ini masih sama seperti 12 tahun yang lalu, rupanya waktu tidak mengubahnya menjadi tua.

Rena menghela nafas dan berkata lirih, "Oh intan pujaan kemana engkau pergi? Kenapa pergi tanpa pamitan? Kemana aku harus mencari? Haruskah kudaki bukit itu dan menuruni lembah sebagaimana dulu kita melakukan petualangan itu. Oh angin bisikkanlah dimana dia? Oh bintang tunjukanlah arah? Laut hempaskanlah aku padanya".

Rena pun menerka-nerka alasan kenapa Reyhan tidak ada. Alasan pertama mungkin karena perjanjian jam 4 sekarang jam 5 jadi jelas ia sudah tidak ada, mungkin Reyhan mengira bahwa Rena tidak akan datang jadi ia pergi. Alasan kedua mungkin surat ini bukan ditujukan pada hari ini, namun dari hari-hari sebelumnya, mungkin Reyhan mengira bahwa Rena akan mengambilnya kemarin-kemarin namun hari-hari kemarin adalah hari libur menurut kelas Rena karena ada sebuah even yang diadakan oleh kelas Rena. Mungkin itulah alasan kenapa Reyhan tidak ada di taman ini.

Rena menghela nafas, ia pun berjalan mengelilingi taman lagi, taman ini begitu sejuk dengan menghadirkan pemandangan bunga dan sebuah bukit. Reyhan dan Rena mengetahui jalan rahasia menuju bukit itu. Rena pun melangkah menuju sebuah semak, di dalam semak itu ada sebuah pohon besar sekali. Dan untunglah ia masih bisa memasuki semak itu walau merangkak. Semak itu begitu tersembunyi dan ini adalah tempat rahasia Reyhan dan Rena.

Di dalam semak ada sebuah pohon besar, saking besarnya pohon itu menerobos atap semak-semak itu. Akar-akar pohon itu keluar dari tanah. Akarnya begitu kokoh dan ada sebuah rongga kosong di antara akar, tanah dan batang pohon. Biasanya Rena dan Reyhan menyembunyikan benda-benda kesayangan mereka di sana. Bahkan surat yang tulisannya seperti cakar ayam pun mereka letakan di situ. Surat itu berguna seperti prasasti, tulisannya berkisar tentang hari-hari yang mereka lalui mereka gunakan untuk apa saja, lalu isi surat yang bertuliskan cakar ayam ini juga ditulis untuk seseorang yang mungkin menemukan tempat rahasia ini sehingga tempat ini sudah bukan tempat rahasia lagi.

Tulisan itu menulliskan tentang jangan ambil dan buang barang-barang di dalam rongga ini karena ini adalah harta dua orang anak. Mengambilnya sama dengan mencuri. Biarlah barang ini tetap ada di sini seperti benda yang berada di dalam museum. Rena tersenyum membaca tulisan cakar ayam Reyhan. Lalu ia melihat barang-barang itu. Semuanya masih ada di sini. Ada boneka kesayangan Rena, boneka itu berambut pirang bermata biru, dan sekarang agak kotor terkena tanah dan tampak lusuh dimakan waktu. Jelas sekali bahwa boneka ini adalah boneka bule. Rena tersenyum mengingat bahwa ini adalah hadiah ulang tahun dari ayahnya di ulang tahunnya yang kelima tahun. Dan sehari kemudian sang ibu bertanya tentang di mana keberadaan boneka ini. Dan Rena tidak ingin menjawab karena tempat ini adalah tempat rahasia untuk Rena dan Reyhan. Dan mereka tidak ingin membagi rahasia ini untuk orang lain.

Di sini juga ada kereta uap milik Reyhan, dan ada sebuah surat putih, belum terlalu kotor menandakan surat ini masih baru. "Pasti dari Rayhan". kata Rena. ia pun membuka amplop itu. Dan membacanya.

"Masih ingatkah engkau pada bukit itu? Dulu kita sering ke sana. Aku sulit membayangkannya karena saat itu kita masih terlalu kecil bukan? Sekarang maukah engkau ke puncak bukit itu untuk menemuiku? Ada sesuatu yang ingin kuperlihatkan padamu. Sesuatu yang dulu belum sempat kita lihat karena saat itu kita masih terlalu kecil dan begitu terbatasnya waktu yang kita miliki. Karena orang tua kita saat itu selalu mencari kita ketika sore tiba. Sampai ketemu di puncak bukit sana."

Rena merasa de javu. Di surat sebelumnya Reyhan berkata akan menemuinya di sini. Namun setelah sampai sini ia berkata akan menemuinya di puncak bukit itu. Dan apakah setelah sampai di sana ia akan memberikan sebuah surat yang bertuliskan akan menemui Rena di Bandung. Rena mendengus dan menurutnya, ia akan tahu jika ia sampai ke sana.

Jalan rahasia menuju bukit itu adalah berjalan terus di lorong semak ini. Dan perjalanan semakin terjal ke atas, semak berganti dengan pohon-pohon besar, rumput-rumput terinjak oleh kaki Rena. Ia menatap rumput-rumput di depan, seperti bekas injakan. Mungkinkah bekas injakan Reyhan? Dan akhirnya Rena sampai di puncak. Ia melihat siluet Reyhan yang sedang duduk. Ia sudah berubah, ia semakin tinggi dan tegap. Apakah wajahnya masih sama seperti dulu? Rena pun berjalan mendekat, tanpa sadar ia menginjak ranting.

Reyhan menoleh dan tersenyum, "Selamat datang, tahukah engkau aku menunggumu satu minggu hanya untuk bersamamu selama 15 menit?"
Rena melangkah mendekat, "Maksudmu, kau memberikan surat ini pada penjaga perpustakaan dari seminggu yang lalu?"
Reyhan mengangguk, "Ya, apa kau baru menerimanya? Tapi ya sudahlah tak perlu di bahas karena aku harus bersiap pulang ke Bandung, aku mendapatkan liburan satu minggu, dan kini habis hanya untuk menunggumu. Oh kenapa kau tak kunjung tiba? Tapi aku bersyukur aku masih bisa melihatmu di ujung penantianku. Kini waktuku telah habis, aku harus pergi."

Rena terkejut, "Secepat itukah? Maksudku kenapa kau tidak datang ke rumahku atau memberikan nomer telpon ke surat itu agar aku bisa menghubungimu?"
Reyhan tersenyum menggeleng, "Aku terlalu malu datang ke rumahmu, datang menemui orang tuamu seakan-akan aku begitu merindukanmu ckkk betapa memalukannya. Dan memberi tahu nomer telpon adalah cara kuno. Semua orang di zaman sekarang menggunakan cara itu. Dan cara itu sekarang sudah basi."

Rena tersenyum miris, "Lebih basi dan kuno lewat surat kali"..
Reyhan berdiri, "Yasudahlah itulah caraku, sekarang aku harus bersiap ke stasiun sebelum kereta pergi meninggalkan aku."
Rena merenung, "Kau kan bisa menggunakan bis. Dan tunggu dulu, katanya kau ingin memperlihatkan sesuatu apa karena aku datang telat jadi kesempatanku telah hilang?"

Reyhan tersenyum, "Selalu ada banyak kesempatan Rena. Mungkin pepatah bilang kesempatan tidak akan datang dua kali. Tapi menurutku ia memang tidak akan datang dua kali melainkan tiga, empat, lima dan seterusnya selama harapan dan kesebaran masih bersemayam di hati." Rena tersenyum "Jadi, apa yang ingin kau beri tahu padaku?"

Reyhan menunjuk matahari terbenam, "Lihat, cantikkan? dulu kita tidak sempat melihatnya karena ketika senja tiba kita harus lekas pulang. Dan sekarang kita memiliki kesempatan melihatnya walau hanya sekilas. Ok aku akan menuruni bukit, kau mau ikut?" Rena mengangguk.
Lalu mereka menuruni bukit bersama. Dan sampailah mereka pada sebuah jalan raya. Lalu Reyhan berkata, "Itu bis yang akan mengantarkan aku ke stasiun. Aku pergi dulu ya sampai jumpa di Bandung." Reyhan lalu naik bis dan berdiri di pintu, melambaikan tangan ke arah Rena. Rena merasa de javu dan ternyata benar ia harus menemuinya di Bandung. Dan untungnya gagasan itu bukan dari suratnya namun dari suaranya langsung. Rena mengangguk dan melambaikan tangan. Perjumpaan yang sebentar sekali lalu diikuti oleh perpisahan. Lalu untuk apa ada pertemuan jika ada perpisahan? Tapi itu lebih baik dibanding tidak bertemu sama sekali, jika tidak bertemu maka pasti akan rindu sekali. Melihat dirinya walau hanya sebentar rasanya menyenangkan.

** Selesai **

Sebuah cerita pendek Pertemuan untuk sebuah Perpisahan yang lumayan keren, emosi dan perasaan tokoh juga udah lumayan tersampaikan. Gimana menurut kalian tentang Cerpen Kertas Putih yang Terlipat diatas? Atau mungkin ada yg suka bikin cerpen? Salam Cinta dan Persahabatan..
Advertisement

Cerpen Kertas Putih yang Terlipat

Published by: Admin on 23.16.

Silahkan Komentar Disini:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

#Fut1

#Fut2

#Fut3